Showing posts with label KEAKSARAAN. Show all posts
Showing posts with label KEAKSARAAN. Show all posts
Menumbuhkan Motivasi, Menggali Potensi yang Tersembunyi

Oleh : James P. Pardede

Tidak mudah untuk me­wu­­jud­kan target Indonesia me­nu­runkan angka buta aksara hing­ga 5 persen pada 2009 men­datang, diperlukan komit­men se­mua elemen bangsa dan ino­vasi-inovasi yang kreatif oleh pa­ra tutor dalam memelek­ak­sa­rakan war­ga bela­jar buta aksa­ra di bebe­rapa daerah di Indo­ne­sia. Terutama daerah yang ang­ka buta aksaranya ma­sih ter­golong sangat tinggi.
Dalam sebuah kesempatan, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menge­mu­kakan bahwa untuk menun­tas­kan masalah buta aksara agar lebih cepat dan efisien perlu ‘di­ke­royok’ ramai-ramai. Mulai dari pemerintah pusat, peme­rintah daerah (pemda), swasta, perusahaan, LSM maupun orga­­nisasi kemasyarakatan.
Memang, siapa pun menga­kui kalau potret masyarakat buta huruf atau buta aksara identik dengan kantong kemiskinan pe­ngetahuan, kete­rampilan, dan ke­­terbelakangan. Oleh karena itu, fenomena daerah tertinggal me­mang se­nantiasa bersen­tu­han lang­sung dengan karak­te­ristik masya­rakatnya yang ber­ci­rikan keter­ba­tasan sumber da­ya baik sum­ber daya alam apa­lagi sumber daya manu­sianya.
Untuk menetapkan daerah mis­kin beberapa variabel do­minan­nya dirujuk dari penda­patan penduduk, kecukupan ke­butu­han dasar, dan derajat kese­ha­tan. Hasilnya menunjuk­kan bah­wa kantong kemiskinan bagi masyarakat Indonesia ter­se­bar di ribuan kecamatan dan ribuan desa tertinggal. Adapun ukuran kemiskinan pengeta­huan, khu­susnya masyarakat yang dika­tegorikan buta huruf dan buta aksara, dilihat dari sensus pen­duduk yang datanya menun­juk­kan bahwa masya­rakat tersebut (baca: usia 15-44 tahun) mengi­dap penyakit tiga buta, buta ak­sara, buta penge­tahuan umum/pendidikan da­sar, dan buta ba­ha­sa Indonesia.
Selain itu, tingginya angka putus sekolah di tingkat SD te­rutama kelas 1,2,dan 3 juga ber­po­tensi menciptakan buta ak­sara. Jika melihat perkem­ba­ng­an penurunan buta aksara hing­ga 2006, hasilnya sangat meng­gembirakan. Tapi sema­kin se­dikit jumlah pendu­duk buta ak­sara, maka akan semakin sulit memberantasnya. Karena, pen­du­duk buta aksara yang ter­sisa adalah yang terma­suk da­lam golongan hardrock (sangat sulit dimelek­aksara­kan).
Mengatasi permasalahan ma­­sih tingginya angka buta aksara, diperlukan kerja sama berbagai pihak seperti dipapar­kan di atas. Misalnya, lembaga atau instansi pemerin­tah seperti perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan unit pelaksana tek­nis. Selain itu, juga diperlukan peran swasta seperti perusaha­an, BUMN, perban­kan, serta or­ganisasi masyarakat dan kea­gamaan.
Menumbuhkan Motivasi
Jika mengamati kondisi buta ak­sara di Indonesia, maka pola pem­be­lajaran bagi penduduk buta ak­sara harus dilaksanakan secara utuh dan terpadu. Bila perlu, upaya-upaya dengan pen­dekatan psikologis dan profesi perlu dite­rap­kan, antara lain me­numbuhkan motivasi warga be­lajar yang terdeteksi dalam kate­gori warga buta ak­sara.
Motivasi warga belajar ada­lah dorongan yang me­nye­bab­kan terjadinya suatu perbu­atan atau tindakan tertentu. Belajar terjadi karena adanya motivasi yang mendorong seseorang un­tuk melakukan perbuatan bela­jar. Dorongan itu dapat timbul dari diri warga belajar yang ber­sumber dari kebutuhan tertentu yang ingin mendapat pemuasan; atau dorongan yang timbul kare­na rangsangan dari luar diri war­ga belajar, sehingga ia mela­ku­kan kegiatan belajar.
Motivasi yang timbul dari da­­lam diri warga belajar akan lebih baik dibandingkan dengan motivasi yang disebabkan oleh rang­sangan dari luar, namun da­lam prakteknya seringkali mo­tivasi dari dalam sulit dite­mui bahkan cenderung tidak ada. Keadaan demikian memer­lukan rangsangan dari luar se­hingga timbul motivasi belajar.
Rangsangan atau upaya me­numbuhkan motivasi warga be­lajar sebenarnya masih memer­lukan cara-cara yang inovatif dan kreatif. Apakah itu lewat pen­­dekatan kekeluargaan, kea­gamaan atau lewat pekerjaan. Pendekatan lewat kekeluargaan dan keagamaan mungkin tidak terlalu sulit. Yang sulit adalah pen­dekatan lewat pekerjaan. Ber­dasarkan fakta di lapangan, para pekerja termasuk petani di beberapa daerah sangat sulit mem­bagi waktu untuk belajar dan bekerja.
Kreatifitas dari tutor dalam menggiring dan menumbuhkan motivasi warga seperti ini sa­ngat menentukan. Sebab, warga belajar yang ingin diberdayakan ke­banyakan dari kalangan o­rang dewasa (usia antara 15 - 44 tahun) yang telah ba­­nyak makan ‘asam dan ga­ram’ kehidupan.
Dalam pertumbuhan seseo­rang sampai masa dewasa, dia banyak memperoleh pengala­man dalam hidupnya, dan telah banyak belajar dari pengalaman hidup tersebut. Hasil dari peng­alaman itulah yang menen­tukan sikap hidup, pendirian, jalan pikiran, nilai dan sebagainya dari orang bersangkutan.
Apabila sikap hidup, pikiran, ide, pengalaman, informasi dan sebagainya yang terdapat pada diri warga belajar dipupuk dan dikembangkan, maka akan mem­­bantu perkembangan atau ke­majuan belajarnya. Sebalik­nya, apabila hal itu ternyata meng­halangi kemajuan belajar yang bersangkutan, maka men­ja­di kewajiban tutor untuk me­nga­dakan usaha untuk merubah sikap hidup, pendirian atau jalan pikiran tersebut, sehingga dapat membantunya ke arah kema­juan yang dicita-citakan.
Perlu diketahui, bahwa sikap dan pendirian yang menjadi peng­­halang antara lain: Perta­ma, lekas merasa puas dengan hasil yang telah dicapai (tidak ingin mencapai hasil yang lebih baik). Kedua, tidak suka me­man­faatkan waktu luang deng­an kegiatan-kegiatan yang sebe­narnya memberi manfaat posi­tif. Ketiga, tidak suka menga­dakan penelitian atau perhi­tu­ngan sebelum melakukan sesu­atu pekerjaan. Keempat, kurang tekun dan disiplin dalam mela­kukan sesuatu. Kelima, menga­baikan aturan-aturan atau nor­ma-norma yang berdasar ilmu pengetahuan. Keenam, tidak percaya pada kemampuan diri sendiri dan ketujuh, tidak suka bekerjasama dengan orang lain.
Karena sikap hidup dan pen­dirian tersebut, merupakan hasil pengalaman masa lampau, ma­ka untuk mengubahnya harus diberikan pengalaman-penga­laman baru dan motivasi-mo­tivasi positif yang pada akhirnya menimbulkan pengertian, kesa­daran dan keyakinan bahwa me­­reka memiliki potensi yang ter­sembunyi. Bahwa mereka me­miliki potensi yang harus digali agar memiliki rasa per­caya pada diri sendiri, mem­buang rasa gengsi yang tinggi, me­ninggal­kan sikap mau me­nang sendiri dan menge­depan­kan kebersa­ma­an dalam menye­lesaikan se­buah persoalan.
Upaya menumbuhkan moti­vasi kepada warga belajar dan calon warga belajar harus dapat menyadarkan dan meyakinakan warga belajar bahwa mereka yang cepat merasa puas dengan hasil pekerjaannya akan jauh ke­­­tinggalan dengan mereka yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik. Memberi pe­ngalaman baru dan menum­buh­kan motivasi warga belajar ha­rus dilaksanakan sebagai tinda­kan sosial edukatif dalam pro­gram keaksaraan fungsional ter­hadap warga belajar.
Dengan memperhatikan hal-hal seperti dikemukakan di atas, para pengelola program keak­saraan fungsional senantiasa harus berusaha untuk dapat me­ngenal dan memahami berbagai segi kehidupan orang dewasa. Dengan demikian, kita dapat mengenal dan memahami un­sur-unsur kehidupan orang de­wa­sa itu yang benar-benar mem­bawa keuntungan dan man­faat lahir bathin bagi setiap individu dan masyarakat secara keseluruhannya. Unsur-unsur yang mengandung kegu­naan inilah yang harus dijadikan ba­han dalam menyusun materi pembelajaran.
Menggali Potensi
Setelah upaya penyadaran dan motivasi dari warga belajar tumbuh dengan baik dan dengan memperhatikan tingkat kecer­dasan serta kemampuan belajar pada orang dewasa sebagai­ma­na dikemukakan di atas, maka da­lam program keak­sa­raan fung­­­sional kita perlu berpe­do­man pada konsep : materi pem­be­lajaran menggunakan ba­ha­sa yang mudah dimengerti, ma­teri pembelajaran dengan con­toh-contoh dari kehidupan se­hari-hari, mengajak mereka men­­cari contoh dari kehidupan mereka sendiri, mengajak me­reka memahami tentang sesuatu hal sebab akibat, mem­prak­tek­kan hal-hal yang telah diajarkan, jangan bebani mereka dengan ha­falan dan berikan mereka rangsangan untuk berfikir deng­an cara mengajukan perta­nya­an-pertanyaan yang dapat me­nggali kemampuan berfikir me­reka.
Sebenarnya, yang paling penting dalam penuntasan war­ga buta aksara adalah bagai­ma­na cara menggali potensi yang tersem­bunyi di dalam diri mere­ka. Deng­an meng­­gali potensi tersebut kita akan me­nge­tahui ke arah mana minat dan ke­mampuan mereka dalam me­ningkatkan taraf hidupnya di kemudian hari.
Lantas, kenapa pemberan­tasan buta aksara begitu penting sampai peme­rintah melun­cur­kan pro­gram nasional yang di­be­ri nama Gerakan Nasional Pem­beran­tasan Buta Aksara (GNPBA) ?
Karena pemberantasan buta aksara merupakan bagian dari Education for All dan Mille­ni­um Development Goals (MD­Gs). Maka pelaksanaannya bu­kan cuma bertujuan agar warga buta aksara menjadi melek hu­ruf latin atau bisa berhitung. Ta­­pi lebih dari itu, warga buta aksara juga harus didorong un­tuk bisa mening­katkan kualitas hidupnya.
Upaya-upaya lainnya yang bisa dilakukan untuk member­dayakan warga buta aksara sete­lah mendapat dukungan moti­vasi dan penyadaran dari berba­gai elemen sebenarnya masih sangat beragam.
Misal­nya, melalui program bekerja sambil belajar yang me­rupakan pola pembelajaran dan pember­dayaan penduduk secara terpa­du antara upaya pembi­naan pengetahuan dan ke­teram­pilan upajiwa dan mencari naf­kah (vokasional). Inilah yang dina­makan pende­katan bekerja dan belajar, yang dapat diterap­kan dalam mem­ber­daya­kan pen­du­duk usia dewasa (ba­ca: buta ak­sara) me­lalui pen­de­katan an­dra­gogi dan integratif.
Pendekatan dengan bahan ajar yang langsung bersentuhan dengan profesi warga belajar diharapkan akan lebih memu­dahkan mereka dalam me­nye­rap pelajaran yang disam­pai­kan.
Jaringan Belajar
Disamping itu, ada beberapa konsekuensi logis dalam pende­katan tutorial terpadu ini khu­susnya dalam konteks percepa­tan pemberan­tasan buta aksara sambil beker­ja. Pertama, kegia­tan pem­berdayaan penduduk dewasa (15-44 tahun) dalam upaya memberantas kemiski­nan pe­ngetahuan dan ketunaan kete­rampilan ini hendaknya ber­mula dari upaya menggenjot kesadaran dari warga belajar itu sendiri (inner consciousness) bah­wa belajar sambil bekerja pada hakikatnya merupakan su­atu kebutuhan di samping ke­wajiban.
Melalui program tutorial ter­padu ini diharapkan dapat di­ting­katkan dan diberdayakan kemauan dan potensi setiap pen­duduk atau warga belajar untuk berbuat yang terbaik termasuk belajar untuk melek huruf, me­nambah pe­nge­tahuan dan kete­rampilan.
Kedua, pola tutorial terpadu hendaknya diikuti dengan pem­bangunan jaringan belajar (lear­ning network) yang dapat me­ngon­­disikan setiap penduduk/warga belajar untuk senantiasa melek ilmu pengetahuan dan keterampilan. Ini berarti warga belajar tidak berhenti seusai mengikuti program pendidikan keaksaraan dan sekadar mem­pe­roleh surat keterangan melek aksara (Sukma).
Melalui jaringan belajar ma­syarakat ini seperti diba­ngun­nya perpustakaan desa, taman bacaan masyarakat, pusat sum­ber belajar masyarakat, dan lain-lain diharapkan masyarakat/warga belajar diajak untuk terus belajar sepanjang hayat (life long education) dalam rangka peningkatan kualitas hidupnya.
Ini perlu ditindaklanjuti ke­be­­radaannya mengingat pada beberapa kasus pelaksanaan pendidikan keaksaraan, banyak warga belajar yang tadinya su­dah mulai melek aksara/huruf, mereka kembali menjadi ma­sya­rakat yang “lupa huruf”. Ala­sannya, antara lain tidak adanya kesinambungan pro­gram pem­belajaran setelah mengikuti pen­­didikan keaksaraan karena tidak dibinanya jaringan belajar di antara kelompok masyarakat/warga belajar itu sendiri.
Pada akhirnya, dukungan dan partisipasi masyarakat sangat mutlak dibutuhkan untuk menunjang program pengen­tasan buta aksara yang tengah digalakkan oleh pemerintah. Me­libatkan seluruh komponen masyarakat bertujuan untuk menggalakkan kerja sama dan menumbuhkan rasa tang­gung­jawab moral untuk mencer­daskan kehidupan berbangsa dan bernegara, menghilangkan kebodohan dan mengurangi angka kemiskinan. Jika semua elemen masyarakat memiliki komitmen untuk ikut menum­buhkan motivasi dan menggali potensi yang tersembunyi dari warga buta aksara di negeri ini, target pemerintah ke depan un­tuk membebaskan Indonesia da­ri buta aksara bisa terealisasi. Semoga.
Menyongsong HAI ke-42 :
“Ayo Belajar Sampai Akhir Hayat”

Oleh : James P. Pardede

Dalam falsafah suku Ba­tak ada disebutkan “Anak kon hi do hamoraon di au” (Anak adalah kekayaan bagi orangtua). Ber­da­sar pada falsafah tersebut, suku Batak sangat gigih dalam membimbing anak-anaknya un­tuk bersekolah hingga ke jen­jang yang lebih tinggi. Tak he­ran kalau suku Batak tersebar di berbagai penjuru tanah air.

Kasubdis PLS Di­nas Pendidikan Provinsi Su­matera Utara Drs. H. Ibnu Saud Nasution mengakui kalau falsafah tersebut sangat dijunjung tinggi suku Batak. Itu sebabnya, setiap kali suku Batak ber­temu dalam pesta atau hajatan, yang pertama kali ditanya adalah: “Berapa anakmu ? Su­dah sekolah apa saja anakmu ?” Jika anak-anak mereka bisa se­kolah dan berhasil menyan­dang gelar sarjana, maka orang­tua akan bangga dan merasa paling bahagia di daerah ter­sebut.

Kalau anak-anaknya tidak mau sekolah, orangtua biasanya akan marah besar dan malu pada sanak family. Apabila sang anak benar-benar tidak mau sekolah, maka orangtua akan merasa sa­kit hati dan membiar­kan sang anak begitu saja sam­pai kelak ia bisa menen­tukan pasangan hidupnya.

Setelah menikah dan punya anak, sang anak tadi akan men­datangi orangtuanya untuk me­nyampaikan rasa penye­salan­nya kenapa dulu ia tidak mau sekolah. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Dalam kondisi seperti ini, orangtua yang bijaksana akan mengarahkan anaknya untuk mengambil program pengajaran keaksaraan atau ikut ujian kese­taraan paket A, B atau C tergan­tung di tingkat mana si anak ter­se­but mengalami putus seko­lah. Ini demi untuk pening­katkan taraf hidup dan pening­katan kompetensi sang anak dalam memperoleh pekerjaan yang lebih baik.

Menurut data BPS Provinsi Sumatera Utara, angka melek aksara di beberapa kabupaten/kota Sumut sudah menunjukkan angka yang sangat bagus. Bah­kan, di beberapa kabupaten/kota hanya sebagian kecil masya­rakatnya yang masuk dalam daftar warga buta aksara. Dan biasanya, mereka tinggal di daerah pegunungan atau peda­laman yang sama sekali di ka­wasan itu tidak ada sekolah atau penduduknya tinggal sa­ngat berjauhan.
Untuk menjangkau ini, parti­si­pasi masyarakat yang tinggal dekat dengan pemukiman mere­ka sangat diharapkan. Dengan kepedulian ini, diharapkan ma­syarakat di pelosok mana pun bisa merasakan betapa penting­nya pendidikan dalam mem­perbaiki taraf hidup mereka dan anak-anak mereka ke depan. Baik pendidikan formal mau­pun pendidikan non formal.

TERKAIT ERAT DENGAN KEMISKINAN

Pada jalur pendidikan non formal, permasalahan dalam hal perluasan dan pemerataan akses pendidikan bagi setiap warga masyarakat tetap masih ada. Sam­pai dengan tahun 2004, pen­didikan non formal yang ber­fungsi baik sebagai transisi dari dunia sekolah ke dunia ker­ja (transition from school to work) maupun sebagai bentuk pen­didikan sepanjang hayat belum dapat diakses secara luas oleh masyarakat. Pada saat yang sama, kesadaran masyarakat khususnya yang berusia dewasa untuk terus-menerus mening­kat­kan pengetahuan dan kete­ram­pilannya masih sangat ren­dah.

Seperti dilansir Kompas, anggota tim pe­ngem­bangan model belajar Kelompok Kerja Pendi­dikan Masyarakat BP-PLSP Regional I Medan, Sarwo Edy mengatakan, salah satu cara untuk mengurangi tingkat buta aksara di Indonesia adalah de­ngan cara pendidikan keaksa­raan fungsional. Keak­saraan fung­sional terdiri atas dua kon­sep, yaitu keaksaraan dan fung­sional. Keaksaraan secara se­der­hana diartikan se­bagai ke­mam­puan untuk mem­baca, me­nu­lis, dan berhi­tung. Adapun ke­­ak­­saraan fungsional dapat diartikan sebagai hasil belajar membaca, menulis, dan berhi­tung para warga belajar bisa di­gu­­nakan atau bermanfaat bagi peningkatan taraf hidup masya­rakat.

Jika melihat masyarakat yang tinggal di pinggiran Su­ngai Deli Medan, mereka meng­guna­kan air sungai yang keruh untuk mandi, mencuci piring, dan mencuci baju. Meski me­reka tinggal di kota, belum ten­tu mereka bisa mengakses air ber­sih karena keterbatasan peng­hasilan.

Mengubah kehidupan ma­sya­rakat tepian sungai, yang sudah mengakar dalam air su­ngai yang keruh, tentu saja tidak mudah. Metode penyuluhan dan membaca tidak akan berhasil dengan baik tanpa diba­rengi kemampuan membaca, menu­lis, dan berhitung. Dalam model belajar yang sedang dikem­bangkan BP-PSLP Regional I Medan, warga nantinya diha­rap­kan bisa membuat alat pe­nyulingan air bersih yang bera­sal dari air sungai.

Akan tetapi, kalau mereka masih buta aksara, mereka tidak akan bisa memanfaatkan alat ini dan teknologinya. Itu sebab­nya perlu mengajari mere­ka membaca, menulis, dan berhi­tung terlebih dahulu sebe­lum dikenalkan dengan perma­salahan sanitasi dan peman­faatan air sungai.

Menteri Pendidikan Nasio­nal (Mendiknas) Bambang Sudibyo pada Hari Aksara Internasional ke-41 di Pro­bo­linggo menargetkan penu­runan angka buta aksara men­jadi 5 persen pada 2009 men­datang. Karena, buta aksara ter­kait erat dengan kemiskinan.
Secara sosial penduduk yang buta aksara akan terisolasi. Hal itu terjadi karena mereka tidak bisa berkomunikasi secara efektif dengan orang lain. Posisi tawarnya pun sangat rendah.

Sejalan dengan target penu­ru­nan buta aksara pada akhir 2009, Mendiknas mengung­kapkan, maka jumlah yang akan diberantas hingga akhir 2009 sebesar 7,5 juta orang.Adapun target yang akan dicapai pada 2007 ditetapkan sebesar 2,3 juta sehingga sisanya selama dua tahun tinggal 2,1 juta orang.

Di samping itu, pemerintah juga akan menurunkan angka disparitas gender dari 9,6 persen pada 2000 menjadi 3,65 persen pada akhir 2009. Menurut Bam­bang, masih tingginya angka buta aksara tersebut dipicu banyaknya anak usia yang SD yang belum juga bersekolah (5 persen).

Selain itu, tingginya angka putus sekolah di tingkat SD terutama kelas 1,2,dan 3 juga berpotensi menciptakan buta aksara kembali. Jika melihat perkembangan penurunan buta aksara hingga 2006, hasilnya sangat menggembirakan. Tapi semakin sedikit jumlah pendu­duk buta aksara, maka akan semakin sulit memberantasnya. Karena, penduduk buta aksara yang tersisa adalah yang terma­suk dalam golongan hardrock (sangat sulit dimelek­aksara­kan).

Untuk mengatasi masalah buta aksara, diperlukan kerja sama berbagai pihak. Misalnya, lembaga atau instansi pemerin­tah seperti perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan unit pelaksana teknis. Selain itu, juga diperlukan peran swasta seperti perusahaan, BUMN, perban­kan, serta organisasi masyarakat dan keagamaan.

Untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) di daerah, cara yang paling mu­dah dan cepat adalah melalui pem­berantasan buta aksara. Ka­rena itu, pemerintah daerah ha­rus bersungguh-sungguh mem­berikan perhatian yang serius pada pemberantasan buta aksara untuk menaikkan IPM daerah­nya.

TANTANGAN JADI PELUANG

Ada dua prinsip atau strategi pendidikan keaksaraan yang harus selalu diperhatikan dan dipegang teguh oleh setiap pen­didik dalam rangka men­jawab tantangan dan peluang masya­rakat yang terus berubah dengan cepat dewasa ini (komisi inter­na­sional tentang pendidikan UNESCO), yaitu : Pertama, bahwa pendidikan itu berlang­sung sepanjang hayat (life-long education), dan tiada batas usia untuk belajar. Melalui proses belajar sepanjang hayat inilah, manusia mampu meningkatkan kualitas kehidupannya secara terus menerus, mampu mengi­kuti perkembangan ilmu dan teknologi serta perkembangan masyarakat yang diakibat­kan­nya, dan budaya untuk mengha­dapi tantangan masa depan serta mau dan mampu mengubah tantangan menjadi peluang
Pada hakikatnya, seseorang yang sudah berhenti belajar, berarti sudah berhenti berkem­bang atau lebih kasar lagi, sudah berhenti hidup (bekerja). Bela­jar dan bekerja giat dapat dilihat sebagai dua buah kegiatan uta­ma manusia, oraet labora – bekerja dan berdoa.

Kedua, dewasa ini, konsep pendidikan keaksaraan tidak hanya “transfer of knowledge” saja atau terjadinya perubahan tanpa arah, tapi harus menum­buhkan budaya; belajar menge­tahui (learning to know), belajar berbuat (learning to do), belajar hidup bersama, hidup dengan orang lain yang memiliki keanekaragaman (learning to live together, to live with others) dan belajar menjadi seseorang (learning to be).

Berdasar pada filosofi bela­jar berlangsung sepanjang hayat dan manusia adalah pembelajar, program pemberantasan buta aksara yang tertuang dalam Inpres No. 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar 9 tahun dan Pembe­ran­tasan Buta Aksara (GNP-PWB/PBA) pemerintah pusat dan daerah harus sama-sama memi­liki komitmen dalam menja­lankan program penuntasan buta aksara di daerahnya ma­sing-masing.

Strategi GNP-PBA bisa di­lak­sanakan dengan sistem blok (tuntas satu kecamatan dulu baru ke kecamatan lain, begitu terus sampai tingkat kabupa­ten), pendanaan dengan sinergi antara pusat dan daerah serta peningkatan mutu (standar kompetensi keaksaraan dan penilaian hasil belajar).

Menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan dan keaga­maan, lembaga swadaya masya­rakat (LSM), TNI dan kompo­nen bangsa lainnya. Dan yang terpenting adalah mempri­ori­tas­kan penuntasan warga buta aksara di 9 provinsi terpadat warga buta aksaranya (Jatim, Jateng, Jabar, Sulsel, Kalbar, NTB, NTT, Banten dan Papua).

Untuk menghindari warga buta aksara yang sudah menda­patkan pengajaran ca-lis-tung, perlu ada kesinambungan pe­nga­jaran dengan pengadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di desa-desa tempat para warga buta aksara bermukim. Beberapa waktu lalu, Analisa pernah menulis keberadaan TBM Plus Mas Raden di Jalan karya Jaya Medan yang setiap ha­rinya ramai dikunjungi ma­sya­rakat.

Menurut pemilik TBM Plus Mas Raden Asyiah, tujuan dibentuknya TBM tersebut adalah untuk menumbuhkan minat baca masyarakat, menjadi media pembelajaran yang mu­rah dan menarik serta berman­faat bagi warga belajar yang masih buta aksara dan telah selesai mengikuti program keaksaraan. Dengan belajar di TBM tersebut, warga buta aksara yang sudah bisa ca-lis-tung bisa meningkat lebih baik dan lestari sepanjang hayat.

Untuk itu, menyongsong Ha­ri Aksara Internasional (HAI) ke-42 nanti, tidak terlalu muluk-muluk jika kita mau mengajak semua warga untuk terus belajar dan belajar. Apabila mene­mu­kan warga yang masih buta aksara, berikan mereka jalan keluar agar menjadi melek aksa­ra dan bisa mengetahui yang selama ini tidak mereka ketahui. “Ayo belajar sampai akhir hayat.”

* Tulisan ini dimuat di Harian Analisa Edisi Minggu, 29 Juli 2007
Keaksaraan Fungsional, Menuju Masyarakat Bebas Buta Aksara

Oleh : James P. Pardede

Salah satu tujuan Gerakan Nasional Percepatan Pemberan­tasan Buta Aksara (GNP-PBA) adalah memberdayakan masya­rakat buta aksara agar mem­pe­roleh pelajaran pendidikan se­ca­ra bermutu sehingga menja­di insan yang produktif dan me­ningkat kesejahteraannya. Unt­uk mencapai ini, masyarakat bu­ta aksara perlu memiliki ke­mam­puan membaca, menu­lis, berhitung dan berkomu­nikasi dalam bahasa Indonesia.

Upaya pemberantasan buta aksara di du­kung oleh In­pres Nomor 5 Tahun 2006 ten­tang Gerakan Nasional Perce­patan Penun­tasan Wajib Belajar 9 Tahun dan Pemberantasan Bu­ta Aksa­ra (GNP-PWB/PBA), Ke­pu­­tu­san bersama Men­dik­nas, Men­dagri dan Meneg Pem­ber­dayaan Perempuan ten­tang percepatan PBA, khususnya kaum perem­puan serta adanya penanda­tanganan MoU antara Mendik­nas dengan 26 Guber­nur dan Bupati/Walikota me­nge­nai PBA di daerah masing-masing.

Berdasarkan data nasional, sebanyak 81 persen lebih pen­duduk buta aksara terkon­sen­trasi di 9 provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Ban­ten, Ka­li­mantan Barat, Sulawesi Sela­tan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua. Si­sa­nya dibagi rata terse­bar di 22 provinsi lainnya di Indonesia.

Sementara itu, data Biro Pusat Statistik Juni 2006 me­nun­jukkan, jumlah buta aksara mencapai 8,35 persen atau sebanyak 13.186.255 pen­duduk. Sementara usia 15 sam­pai 44 tahun mencapai 2,89 persen atau sebanyak 3.227.593 pen­duduk dan usia 45 tahun ke atas mencapai 21,58 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau sebanyak 9.938.632 pen­duduk.

Dalam sebuah kesempatan, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Ace Suryadi mengung­kapkan bahwa untuk 2007 pe­merintah menyiapkan ang­garan Rp. 1,25 triliun untuk me­ngu­rangi angka buta aksara yang saat ini mencapai 2,2 juta orang di seluruh tanah air.
Lantas, mengapa upaya pem­berantasan buta aksara tidak pernah tuntas ? Banyak faktor yang jadi penye­bab. Di­an­tara­nya masyarakat buta ak­sara ting­gal di daerah sangat ter­pen­cil dan terisolasi, ekono­mi ke­luarga sangat lemah serta moti­vasi belajar sangat rendah.

Berbagai program telah diuji coba dalam upaya mengurangi angka buta aksara di tanah air. Salah satu program yang sejak 1995 telah dikembangkan ada­lah program keaksaraan fung­sional (KF).

Dimana, program keak­sara­an fungsional merupakan salah satu bentuk layanan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) bagi ma­sya­rakat yang belum dan ingin memiliki kemampuan ca-lis-tung, dan setelah mengikuti program ini (hasil belajarnya) mereka memiliki kemampuan “baca-tulis-hitung” dan meng­gunakannya serta berfungsi ba­gi kehidupannya. Artinya mere­ka tidak hanya memiliki ke­mam­puan ca-lis-tung dan kete­rampilan berusaha atau ber­mata-pencaharian saja, tetapi juga dapat survive dalam dunia kehidupannya.

Menurut Kasubdis PLS Di­nas Pendidikan Provinsi Su­matera Utara Drs. H. Ibnu Saud Nasution untuk member­daya­kan warga buta aksara di Suma­tera Utara program keak­sa­raan fungsional menjadi satu pro­gram yang sangat tepat, teruta­ma dalam pelaksanaannya yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat.

Sebab, lanjutnya, program ini bisa berjalan dengan baik dan mudah diterapkan di te­ngah-tengah masyarakat buta aksara yang kebanyakan dari mereka bekerja sebagai petani, nelayan, buruh dan ibu rumah tangga.

KERJA SAMA

Untuk menjangkau ke­lom­pok-kelompok yang masih buta aksara khususnya usia 15 tahun ke atas, Dinas Pendidikan Pro­vinsi melakukan pendekatan dengan pihak kabupaten/kota dalam mendata keberadaan me­reka. Dengan upaya ini, jumlah warga buta aksara di berbagai kabu­paten/kota bisa diketahui. Action dan anggaran untuk penun­tasannya pun bisa dialo­kasikan dalam APBD.

Jika diilihat dari komponen Human Development Index (HDI) menurut Kabupaten/Kota di Sumut yang diolah dari data BPS Provinsi Sumut 2006 (Susenas 2004) diperoleh bah­wa, Kabupaten Nias Selatan (15,6 persen) ma­sih menjadi daerah yang memi­liki angka warga buta ak­sara tertinggi di Sumut disusul Nias (14 persen), sisanya ter­sebar di kabupaten/kota lainnya.

Ibnu Saud Nasution me­nge­mukakan, untuk mengatasi ma­salah buta aksara ini tidak bisa dipaksakan dengan menga­jar­kan baca, tulis, dan berhitung semata,tetapi pengajarannya harus bersifat fungsional yang ilmunya lang­sung dapat diman­faatkan dalam menyiapkan me­re­ka mengha­dapi peker­jaan. De­ngan demi­kian mereka sadar hahwa pe­nge­tahuan mem­baca, berhitung, menulis ternya­ta da­pat menam­bah produk­tifitas­nya dalam bekerja.

Bahkan bagi yang sudah dewasa pun kalau sistem bela­jar­nya tidak kontekstual atau tidak digunakan dalam kehi­dupan sehari-hari, ilmu akan hilang lagi, di sinilah perlunya kerjasama dengan dunia in­dus­tri, dunia usaha, ataupun depar­temen terkait agar ikut serta memahami mengentaskan ma­sa­lah buta aksara ini, misal­nya dengan mendirikan Pusal Kegi­atan Belajar Masyarakal (PKBM) di lingkungan mereka belajar.

“Program keaksaraan fung­sional yang diterapkan di be­berapa daerah kabupaten/kota di Sumut disesuaikan dengan profesi me­reka sehari-hari,” papar Nasu­tion.

Misalnya, untuk warga buta aksara yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan, proses penga­jaran keaksaraan bagi mereka adalah dengan me­ngenalkan ikan, pancing, jala, dayung, pe­rahu, harga ikan le­wat huruf dan angka. Mereka juga dibekali keterampilan membuat jala dan yang lainnya yang berkaitan dengan profesi mereka.

“Setelah mereka mengenal huruf dan bisa mengeja kalimat serta menghitung, biasanya mi­nat untuk lebih tahu akan tum­buh kemudian. Di titik ini­lah kre­atifitas tutor sangat me­nen­tukan,” tandasnya.

Sama halnya dengan warga buta aksara yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Semen­tara untuk warga buta aksara dari kalangan ibu rumah tangga program KF yang dilaksanakan adalah dengan mengarahkan ibu-ibu rumah tangga memilih keterampilan yang mereka mi­nati apakah menjahit, bordir, memasak atau menyulam. Le­wat pelatihan keterampilan ini upaya untuk mengenalkan ak­sara pun dijalankan bersamaan.

PERLU EVALUASI

Setelah menjalankan pro­gram ini, biasanya setiap tahun akan diadakan evaluasi terha­dap warga buta aksara yang telah mengikuti pembelajaran dan berhak memperoleh Surat Keterangan Melek Aksara (Suk­­ma). Apakah mereka menjadi melek huruf atau jadi lupa huruf di kemudian hari.

Untuk kesinambungan pro­gram KF, perlu ada pembinaan budaya baca dan pengadaan perpustakaan masyarakat se­perti Ta­man Bacaan Masya­rakat (TBM) di setiap desa. Atau, paling tidak ada kepe­dulian dari masyarakat untuk menyumbangkan buku-buku baru atau bekas kepada warga buta aksara yang sudah bisa ca-lis-tung tadi.

Selama ini disinyalir bahwa pemberantasan buta aksara seo­lah-olah hanya menjadi tang­gung jawab pemerintah. Tam­pak­nya strategi penuntasan buta aksara semacam itu sudah tidak relevan lagi. Apalagi melihat kondisi sosial budaya masya­rakat Indonesia yang terus-menerus berubah. Sudah saat­nya prinsip kemitraan, koordi­nasi, sinkronisasi, dan integrasi instansional terkait sangat diperlukan. Kemitraan antara Depdiknas dengan lem­baga-lembaga terkait itu paling tidak ada nuansa baru dalam pember­dayaan warga masya­rakat yang kurang beruntung tadi.

Disamping itu, lembaga ter­kait tersebut bisa saling tukar pe­ngalaman yang bersifat “mu­tual benefit” dalam melak­sa­na­kan program pemberan­tasan buta aksara. TNI dan lembaga terkait lain juga bisa belajar ba­gaimana Depdiknas melaku­kan suatu pelatihan tuto­rial dan meng­im­plemen­tasikan­nya ter­ha­dap warga belajar pen­didikan keaksaraan yang berna­faskan pedagogis-andra­gogis.

“Harapan kita, program KF bisa menyentuh warga buta ak­sara di seluruh wilayah Indo­nesia, khususnya Sumut. Deng­an didukung dana, tutor berpe­ngalaman dan komitmen dari stake holder, masyarakat buta aksara bisa menjadi bebas buta aksara,” papar Ibnu Saud Na­sution.

SETENGAH HATI

Perlu diketahui, keaksaraan fungsional ha­nya dapat dide­fenisikan secara utuh, jika me­ngacu pada kon­teks sosial lokal dan kebutuhan khusus dari se­tiap warga belajar. Sebagai con­toh, warga belajar yang hi­dup di daerah perkotaan, di mana di sekitarnya terdapat berbagai instansi/lembaga pe­merintah dan swasta, serta ter­sedianya berbagai media infor­masi baik cetak maupun elektro­nik, tentu diperlukan pro­gram keaksaraan fungsional dengan penekanan pada ke­mam­puan fungsional yang lebih tinggi seperti belajar tentang akuntan­si, cara meng­gunakan telepon, sopan santun berla­lulintas di jalan raya, serta hal-hal yang berhubungan de­ng­an dunia per­bankan dan seba­gainya.

Namun jika mereka hidup di daerah pedesaan, daerah terpen­cil atau di daerah pedalaman, mung­­­kin yang diperlukan ha­nyalah bagaimana mereka bisa belajar tentang pertanian atau perkebunan.

Anggota De­wan Perwakilan Daerah (DPD) Asal Sumut Par­lin­dungan Purba, SH,MM me­maparkan bahwa untuk pem­berantasan buta aksara peme­rintah jangan sete­ngah hati da­lam menjalankan setiap pro­gram. Kemudian perlu ada si­ner­gi antara pusat dan daerah baik itu dalam realisasi program maupun dalam hal anggaran. Yang terpenting lagi adalah tetap melakukan evaluasi.

“Sebab, warga buta aksara biasanya tidak jauh dari kondisi ekonomi yang sangat lemah atau miskin. Apabila kondisi masyarakat kita makin banyak yang miskin, maka makin ren­tan pula warga miskin ini men­jadi warga buta aksara baru di kemudian hari,” tandasnya.

Kemudian, lanjutnya, demi kesinambungan pembelajaran warga buta aksara, kehadiran TBM di masyarakat jangan dija­dikan ajang proyek yang akhir­nya menjadikan TBM sebagai “Taman Beban Masyarakat”.

Disadari sepenuhnya bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang yang sangat penting dan strategis dalam pemba­ngu­nan nasional. Pendidikan yang berkualitas dapat mengan­tarkan Indonesia menjadi bang­sa yang modern, maju, makmur, dan sejahtera yang tercermin pada keunggulan dan kemam­puan bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Untuk itu, pemerintah harus menempatkan pendidikan seba­gai salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Pembangunan pendi­dikan sangat penting karena memberi kontribusi signifikan pada upaya peningkatan kese­jahteraan masyarakat dan men­jadi landasan yang kuat dalam menghadapi era global yang sarat dengan persaingan antar­bangsa yang berlangsung sa­ngat ketat.

Sebab di dunia internasional, keaksaraan juga sudah diakui sebagai hak asasi manusia dan suatu keadaan yang sangat mut­lak bagi perkembangan manu­sia. Suatu analisis tentang hasil survey yang dilakukan di nega­ra-negara berkembang menun­jukkan bahwa pening­katan ke­mampuan keaksaraan ber­dam­pak langsung terhadap in­vestasi dan kinerja seseorang. Keaksa­raan seperti halnya gizi, keseha­tan dan pendapatan mempunyai korelasi dengan peningkatan umur harapan hidup dan penu­runan kematian ibu dan anak.

* Tulisan ini dimuat di Harian Analisa Edisi Minggu, 29 Juli 2007